Sebuah Blog Biasa Dari Seseorang Yang Biasa Aja

Sabtu, 03 Desember 2011

Jati Diri Unsoed Bab 6 Etika dan Etika Akademik

JATI DIRI UNSOED
Bab 6 Etika dan Etika Akademik



Joshua Markus Adrian
E1A011075



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM

1.       Pengertian Etika
Secara etimologis kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari ata “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Menurut Ki Hajar Dewantara (1962) Etika adalah “Ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia, teristimewa yang mengenai gerak gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan”.
Etika menurut Zubair (1992) dapat dijabarkan menjadi tiga aspek, yaitu aspek historis, aspek deskriptif, dan aspek normatif.
2.       Etika Dalam Masyarakat Kampus
Perguruan tinggi adalah suatu lembaga yang didalamnya terdiri atas civitas akademik yaitu dosen dan mahasiswa serta staf administrasi. Calon Mahasiswa harus belajar bagaimana harus membawakan dirinya, bagaimana harus bersikap agar mereka menjadi bagian dari sistem perguruan tinggi. Etika dalam masyarakat kampus atau dapat disebut sebagai etika akademik bersifat universal karena etika berdasarkan kepada ilmu dan kearifan. Perilaku serta tatanan pergaulan yang harus dijalankan dan merupakan ciri dalam kehidupan masyarakat kampus adalah sikap dan etika akademik.
2.1   Landasan Etika Akademik
Sikap akademik dipengaruhi oleh tingkat penguasaan ilmu dan luasnya wawasan seseorang. Semakin tinggi tingkat keilmuan yang dimiliki akan semakin baik sikap akademiknya. Sikap akademik demikian selaras dengan etika akademik yang berlandaskan pada ilmu atau kearifan. Sebaliknya, rendahnya penguasaan ilmu akan mendorong seseorang mengikuti nalurinya. Oleh sebab itu, pemahaman tentang filsafat ilmu dan manfaat mempelajari ilmu, penting bagi anggota masyarakat kampus termasuk mahasiswa baru.
2.1.1          Metode Ilmiah
Ilmu pada hakekatnya mencari jawaban yang benar atas berbagai pertanyaan dan cara menyusun pengetahuan yang benar disebut epistemologi. Metode ilmiah mencurahkan perhatiannya terhadap fakta-fakta yang obyektif menggunakan observasi atau eksperimen. Suatu kesimpulan merupakan hipotesis baru yang akan diuji dengan eksperimen lebih lanjut.
2.1.2          Logika
Penarikan kesimpulan merupakan proses berfikir dengan menggunakan logika atau penalaran. Proses penarikan kesimpulan dalam metode ilmiah menggunakan logika deduktif dan logika induktif. Penarikan kesimpulan menggunakan logika diterapkan dalam eksperimen ilmiah mengacu pada termminologi dan deskrepsinya jelas dan dapat dimengerti, prosedur dan hasil eksperimennya diuraikan secara tepat, kesimpulannya didasarkan pada penemuan peneliti lain yang sahih, kesimpulan tersebut dapat diverivikasi dan akan memberikan kontribusi bagi penyusunan teori bagi peningkatan pemahaman universal.
2.1.3          Otoritas
Selain mengandalkan logika, manusia juga dapat mengandalkan pada otoritas dalam mengembangkan pengetahuannya. Otoritas dapat berupa penjelasan orang lain yang kredibilitas keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

2.1.4          Intuisi
Selain logika dan otoritas, manusia juga menggunakan intuisi dalam mencari kebenaran untuk mengambangkan pengetahuannya. Ilmu dikembangkan dengan logika, otoritas dan intuisi para pakar dibidangnya.
2.1.5          Ilmu Melandasi Etika
Dalam memecahkan permasalahan hidupnya manusia pasti harus berinteraksi dengan sesamanya yang menuntut sikap dan etika yang erat kaitannya dengan kemanusiaan. Ilmu akan mempengaruhi sikap dan etika yang terwujud dalam perilaku sehari-harinya.
2.2   Sikap Dan Etika Akademik
2.2.1          Sikap Akademik
Sikap adalah perbuatan yang berdasarkan pada pendirian. Akademik berarti mengandung kearifan dan dilandasi dengan ilmu. Sikap akademik adalah perbuatan, perilaku, gerak-gerik yang berdasarkan pada pendirian yang mengandung kearifan dan dilandasi dengan ilmu. Dalam masyarakat kampus juga dikenal otonomi keilmuan. Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 24 disebutkan bahwa
Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan.
Seorang civitas akademik memiliki sikap akademik yang meliputi
·         Keingintahuan
·         Kritis
·         Terbuka
·         Obyektif
·         Tekun dan konsisten
·         Berani mempertahankan kebenaran
·         Berpandang kedepan
·         Independent
·         Kreatif
2.2.2          Etika Akademik
Dalam masyarakat kampus terdiri atas manusia-manusia yang membentuk sistem sosial yang tentu memiliki kaidah-kaidah baik buruk. Perbuatan manusia dapat dikelompokan menjadi dua macam berdasarkan motifnya, perbuatan yang timbul dari motif-nalui dan perbuatan yang timbiul dari pemikiran yang jernih.
Seorang yang beretika akademik dapat digambarkan sebagai berikut:
·         Apresiatif
·         Agnostik
·         Mengakui otoritas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar